Kabupaten Banjar merupakan salah satu daerah di Provinsi Kalimantan Selatan yang memiliki sejuta kekayaan alam dan dapat dijadikan objek wisata andalan, salah satunya adalah Puncak Arta.
Ekowisata alam yang berada di Desa Aranio, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar ini dapat dijadikan salah satu destinasi rekomendasi di akhir pekan.
Belum sampai di puncak, wisatawan sudah disuguhi suasana tenang, asri dengan hutan yang masih sangat belantara di sisi kanan dan kiri. Pastinya, keadaan seperti ini membuat wisatawan ingin berdiam diri lama-lama di kawasan ini.
Tidak cukup sampai di situ. Keindahan Arta berlanjut di puncaknya. Di puncak Arta, pengunjung akan disuguhi panorama indah yakni riak gelombang ombak mengalun air waduk Riam Kanan/PLTA IR. PM. Noor.
Diwaduk tersebut akan dapat terlihat berseliweran klotok pengangkut penumpang dan barang masyarakat dari desa di sekitar danau buatan Pelabuhan Tiwingan Lama.
Namun, untuk menuju puncak Arta tidaklah mudah. Perjalanan yang terjal, ditambah bebatuan tak beraturan membuat nyali para wisatawan semakin tertantang.
Terlebih saat cuaca hujan, wisatawan wajib membutuhkan ekstra fokus agar tidak tergelincir. Bahkan fatalnya, bisa sampai terjungkal ke dasar jurang.
Meski tak seperti gunung-gunung di Kalsel yang rata-rata di atas ketinggian 1.000 mdpl, namun jalan menanjak sepanjang ratusan meter membuat sensasi memuncak wisatawan tetap bisa dirasakan.
“Kurang lebih dari lokasi parkir ini sampai ke atas itu 200 meter, dan di atasnya lagi sekitar 400 mdpl. Melewatinya berhati-hati, soalnya kalau musim hujan jalan agak licin,” kata Agau Firdaus, Ketua Pokdarwis Puncak Arta, Sapta Pesona Riam Kanan saat berbincang dengan penulis.
Usai lelah melewati jalanan menanjak dengan berjalan kaki, rasa lelah wisatawan akan terbayarkan dengan sejuknya udara di puncak Arta.
Suasana sejuk dan pemandangan awan di pagi hari bisa dirasakan di sini. Untuk melihat pemandangan awan melintasi perbukitan wisatawan harus bangun pagi-pagi.
Sebab, menurut Agau, penampakan awan tersebut hanya bisa dilihat sejak pukul 06.00 hingga 07.00 Wita.
“Setiap hari pemandangan awan bisa dinikmati, biasanya pagi-pagi,” ungkapnya, sambil menyeruput kopi yang ada di hadapan.
Selain itu, jika cuaca bersahabat, wisatawan juga bisa menikmati keindahan momen saat matahari terbit dan tenggelam dari ketinggian sekitar 400 mdpl puncak Arta.
Lantas, berapa tarif retribusi yang dipatok untuk memasuki kawasan Arta?
Tidaklah mahal. Hanya dengan bermodalkan 10 ribu rupiah per orangnya, wisatawan sudah bisa menikmati keindahan puncak Arta seperti yang ada di atas.
M Syaiful Riki








